TEKS DRAMA : “ANAKMU ATAU BUDAKMU”

ANAKMU ATAU BUDAKMU

Karya : Zumara Ikhsani Salam

 

Ibu Erna adalah ibu yang memimpin keluarganya setelah suaminya meninggal dunia. Ibu Narti memiliki seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Yaitu Anita dan Tama. Mereka hidup di suatu rumah yang sederhana namun tertata.

 

ADEGAN 1

 

Pada jam setengah empat dini hari, Anita sedang tidur pulas di kamarnya. Kemudian Bu Erna mengetuk pintu kamar Anita hingga Anita terbangun.

 

Bu Erna        : (Mengetok pintu) Anita, Anita, bangun.

 

Anita hanya menggerutu dan kembali tidur.

 

Bu Erna        : (Mengetok pintu lebih keras) Hey, Anita, bangun!

Anita            : Iya, bu. Nanti dulu. Masih ngantuk nih.

Bu Erna        : (Mengetok pintu lebih keras lagi, marah) Hoy, bocah malas, bangun! Ngebo terus! Sampai kapan kamu tidur?!

Anita            : (Beranjak dari kasur dengan malas) Iya, bu. (Membuka pintu) Ibu itu juga ngapain? Ngetok pintu kok kaya mukul preman. Tambah marah-marah lagi. Ngganggu tetangga, bu.

Bu Erna        : Heh, kalau sampai tetangga marah, kamu yang salah. Jam segini kok nggak bangun. Dibangunini halus-halus juga nggak bangun. Gimana nggak marah?

Anita            : Memang sekarang jam berapa, bu? (Menengok jam) Lho, baru jam setengah empat. Aku ini berangkat sekolah jam tujuh, bu. Bukan jam lima!

Bu Erna        : Ealah Anita… Anita. Ibu tahu! Tapi, kamu itu mendingan mbantu ibu cuci baju daripada ngebo. Jadi perempuan kok sukanya ngebo. Sek sregep!

Anita            : (Mengeluh) Oalah, bu. Lha kemarin itu aku mbantuin ibu banyak banget sampai aku nggak bisa belajar gara-gara klenger,bu. Sekarang tambah lagi kerjaan.

Bu Erna        : Jaga omonganmu, Anita.  Perempuan kok bicaranya waton ceplus. Malu-maluin, tahu nggak?!

Anita            : Lha ibu itu sukanya kayak gitu. Pagi-pagi badan masih lemes, mata masih sepet, ngantuk lagi masak disuruh cuci baju. Dan kenapa harus aku? Kenapa nggak Tama aja, bu?

Bu Erna        : Kamu tahu, kan? Kamu itu anak pertama, perempuan lagi. Kamu nglakuin ini biar bisa jadi ibu yang baik, istri yang serba bisa. Apalagi Tama itu laki-laki. Masak laki-laki ngerjain urusan perempuan?

Anita            : Ibu selalu bilang itu ribuan kali setiap hari, setiap pagi, setiap siang, setiap sore dan setiap malam. Nggak ada habisnya. Bosen! Nggak usah sok njamin masa depanku! Aku juga tahu kalau Tama itu laki-laki. Tapi, nggak ada salahnya disuruh  meski cuma dikit. Bilang aja kalau ibu itu males ngerjain itu.

Bu Erna        : Ini beneran buat kamu dan ini juga buat mbantuin ibu karena ibu harus berperan ganda. Jadi ibu dan nggantiin peran bapakmu yang udah meninggal dunia. Ibu hampir nggak sempat ngerjain semua yang ibu suruh untukmu gara-gara ibu harus cari nafkah.

Anita            : Dan ibu nyengsarain hidupku dengan suruhan-suruhan itu yang selalu ibu kasih ke aku dan nggak ada habisnya. Gara-gara itu, aku nggak bisa serius belajar, bu. Setiap pagi harus nyuci pakaian, njemuri pakaian, masak, nyapu plus ngepel. Terus sekolah. E… pulang sekolah malah disuruh lagi nyuci piring, nyapu, nyetrika. Sore-sore ibu nyuruh lagi mbersihin halaman sama nyirami taneman. Malem-malem ibu juga nyuruh masak sama nyuci piring. Pagi-pagi harusnya tenagaku dipake buat sekolah malah dikuras buat mbantuin ibu. Siang-siang juga. Harusnya tidur ngisi tenaga malah disuruh lagi. Sore-sore harusnya bisa main sama temen, e… malah disuruh lagi. Tambah lagi malem-malem disuruh lagi. Mau belajar, udah loyo duluan, udah larut, ngantuk. Akhirnya nggak ada waktu untuk belajar sama ngerjain tugas, bu! Ibu harus tahu, aku kena semprot gara-gara nggak ngerjain tugas minggu lalu. Dan itu gara-gara suruhan ibu. (Menepuk dadanya) Sebenernya aku ini siapanya ibu??? Anak ibu, pembantu ibu,  atau budak ibu?!

Bu Erna        : Kamu itu kebanyakan ngeluh! Udah, nggak usah rewel, nggak usah kebanyakan cing-cong, kerjain aja! Kamu mbuang-mbuang waktu! (Meninggalkan Anita)

Anita            : (Penuh dengan rasa jengkel, memukul meja dan berteriak) Ah… Ibu ini cuma bisa nyuruh!!! Nggak bisa ngerasain sengsaranya aku! Memang, aku ini dianggap kayak budak. Nggak, anggapannya lebih buruk. Aku lebih buruk daripada budak! Budak itu dibayar. Tapi aku nggak. (Teriak) IBU INI NGGAK ADIL!!! Tama aja bisa leha-leha! Masak aku nggak bisa! Mentang-mentang aku ini anak pertama. Nggak adil! Nggak adil! (Memukul meja lebih keras dari sebelumnya, teriak) NGGAK ADIL!!!

Bu Erna        : (Menghampiri Anita) Heh, kamu itu kenapa? Teriak-teriak, mukul-mukul meja segala. Ngganggu tetangga, malu-maluin! Kalau mejamu rusak, ibu nggak mau ganti!

Anita            : Lha ibu itu nggak tau gimana jadi aku! Sekolah, Mbantuin kerjaannya ibu yang nggak selesai-selesai, harus ngerjain tugas. Aku bosen diperlakukan kayak budak, bu!

Bu Erna        : Sekarang cepet, nyuci pakaian! Kalau nggak, ibu nggak akan bayarin sekolahmu. Bahkan ibu bisa langsung ngeluarin kamu dari sekolah kalau kamu ngeyel terus. (Meninggalkan Anita)

Anita            : (Takut) I… iya, bu.

 

ADEGAN 2

 

Anita langsung bergegas untuk mencuci pakaian di depan kamar mandi. Anitapun langsung mencuci pakaian-pakaian yang sudah menumpuk.

 

Anita            : (Berbicara di dalam hati) Inikah yang disebut anakmu? Selalu disuruh layaknya seorang budak. Dan apakah itu yang disebut ibuku? Yang tidak peduli dengan keadaan anaknya dan selalu memperbudak anaknya. Aku sudah bosan diperbudak seperti ini. (Sedih) Ibu, sebelum bapak meninggal, ibu selalu peduli terhadapku. Selalu sayang terhadapku. Tapi, setelah bapak meninggal, ibu seolah-olah sangat berbeda. Nggak peduli dengan keadaanku. Selalu ngasih urusan-urusan ini. Pasti alasannya cuma untuk masa depanku, untuk masa depanku, seperti itu terus. Seolah-olah nggak ada alasan lain.

 

Tama yang ingin mandi terhenti melihat kakaknya yang tampak bersedih.

 

Tama            : Kakak kenapa? Kok pagi-pagi udah sedih?

Anita            : (Menunduk) Nggak papa kok, dik.

Tama            : Apa gara-gara cek-cok sama ibu tadi?

 

Anita hanya diam saja dan berhenti mencuci sejenak.

 

Tama            : Tama tahu, setelah bapak meninggal, ibu jadi beda. Nggak kayak dulu. Aku ini disuruh belajar melulu. Alasannya untuk masa depanku. Nggak boleh main, disuruh belajar. Memang belajar itu bagus. Tapi aku nggak kuat kalau disuruh belajar terus.

Anita            : Kayaknya, ibu itu terlalu khawatir sama masa depan kita. Ibu takut kalau masa depan kita kacau.

Tama            : Iya juga, sih. (Berjalan ke arah kamar mandi) Ya sudah, aku mandi dulu.

Anita            : Ya

 

ADEGAN 3

 

Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. Di dapur yang dilengkapi dengan sebuah kompor gas, sebuah oven, sebuah rak yang berisi seperangkat alat masak, sebuah meja makan, empat buah kursi, dan sebuah kulkas, Anita sedang bersiap-siap untuk memasak.

 

Anita            : (Membuka rak dan mengambil wajan dan spatula) Huh, kali ini masak apa, ya? (Menaruh wajan dan spatula dan membuka kulkas) Waduh, nggak ada sayur. Adanya cuma telur sama tempe. Apa kemarin ibu nggak belanja ya? (Menutup kulkas) Mungkin ibu terlalu sibuk. (Duduk) Haduh, masak Tama cuma makan telur goreng atau tempe goreng?

 

Tama yang sudah berseragam sekolah datang menghampiri Anita.

 

Tama            : Kakak, mau masak apa?

Anita            : Nggak ada yang bisa dimasak kecuali telur sama tempe.

Tama            : Nggak papa kok, kak. Mau tempe goreng, telur goreng, atau telur rebus aku mau, kak.

Anita            : Tapi, masak kamu cuma makan itu doang? Nggak kenyang nanti.

Tama            : Halah, nggak papa, kak. Yang penting makan, kalaupun cuma dikit juga nggak papa.

Anita            : Ya udah. Tunggu dulu. Aku masakin.

Tama            : E… aku aja yang masak. Kakak ngurusin yang lain aja.

Anita            : Lho, nggak usah. Ini kan udah jadi tugasku. Lagian kamu juga harus siap-siap untuk ke sekolah.

Tama            : Aku udah siap kok, kak. Tapi berangkatnya nanti, jam setengah tujuh. Makanya, mending bantuin kakak. Nggak masalah, kan?

Anita            ; (Ragu) E… Ya, nggak masalah, sih. Ya udah, aku mau mandi dulu. Kamu masak, ya. (Berjalan meninggalkan dapur)

Tama            : Siap, kak. Nanti kalau masaknya selesai, aku bantuin lagi.

 

Tamapun memasak tempe dan telur yang sudah disiapkan. Setelah selesai mandi, Anita kembali ke dapur.

 

Tama            : Wah, pas banget, kak. Masaknya udah selesai. (Menaruh masakannya di atas piring yang disediakan di atas meja makan)

Anita            : (Duduk) Ya udah. Sekarang kamu sarapan dulu.

Tama            : Tapi, aku ingin mbantuin kakak. Aku kan tadi udah ngomong.

Anita            : Aku heran. Kenapa kamu suka mbantuin kayak gini? Padahal ini kan kerjaannya orang perempuan.

Tama            : Aku metik satu pesan dari ibu : aku harus jadi suami yang hebat besoknya. Jadi aku mikir akan lebih bagus kalau aku juga bisa nglakuin ini. Kan aku bisa mbantuin istriku nglakuin ini besok.

Anita            : Aku hargai semua itu. Apa yang kamu katakan itu bener. Patut ditiru itu.

Tama            : Hehehe… Terus, aku harus mbantuin apa, kak?

Anita            : Hmm… (berpikir) Ha, mending kamu nyapu rumah ini. Nanti aku yang ngepel. Tapi, nanti habis makan.

Tama            : (Semangat) Siap, kakak!

 

Mereka berduapun mengambil makanan dan menyantapnya. Setelah selesai makan, Tama tampak sudah tidak sabar lagi membantu kakaanya.

 

Tama            : (Semangat) Ayo, kak.

Anita            : Iya, iya. Kamu ambil sapu dan aku nyiapin lap pel dulu.

 

Merekapun bergegas untuk segera membersihkan rumah.

 

ADEGAN 4

 

Pada siang itu, Anita baru saja pulang dari sekolah. Di ruang keluarga yang dilengkapi dengan sebuah televisi, sebuah tikar yang sudah digelar, dan sebuah almari kayu, anita tampak kebingungan.

 

Anita            : (Bingung) Aduh, gimana ini? Semua tugas harus diselesaikan besok. Padahal tugasnya banyak. Harusnya sih bisa, kalau nggak disuruh ibu. Tapi ibu pasti marahnya pol kalau aku nggak ngerjain suruhannya ibu. Haduh, gimana, ya??? Rasanya bingung banget. Kalau nggak ngikuti salah satu, efeknya sama aja. Aku pasti kena semprot sama Pak Budi atau sama ibu. Sama-sama ngeri semprotannya. Haduh, harus pilih salah satu nih, (memainkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri) kena semprotannya ibu, atau Pak Budi? Ibu? Pak Budi? Ibu? Pak Budi?

 

Tak lama kemudian, Tama baru saja pulang dari sekolah.

 

Tama            : Assalamu’alaikum. (Langsung masuk ke ruang keluarga)

Anita            : Wa’alaikumsalam. Eh… Tama.

Tama            : Kakak kenapa? Kok kayaknya bingung.

Anita            : Iya nih. Bungung banget. Kakak baru punya tugas sekolah banyak. Terus harus diselesaiin besok. Tapi, masak aku harus nggak ngerjain suruhannya ibu.

Tama            : Oh, kalau masalah itu sih, Tama bisa mbantuin, kak. (Semangat) Tama siap membantu!

Anita            : Kamu itu tadi pagi semangat, sekarang juga semangat. Aku hargai itu. Tapi, aku cuma takut kalau aku ketahuan kalau aku nggak ngerjain suruhan ibu.

Tama            : (Berpikir sejenak) Oh, iya. Gini aja. Kalau aku ditanyain, alasannya aku nglakuin ini karena kemauanku sendiri aja.

Anita            : (Berbicara dalam hati) Duh kalau Tama mbantuin, terus ketahuan ibu, nanti aku sama Tama dimarahin lagi. (Berbicara dengan Tama) Tapi, kamu kan disuruh belajar sama ibu. Nanti dimarahin lagi sama ibu.

Tama            : Nggak papa, lah. Aku juga bosen disuruh belajar terus.

Anita            : (Berbicara dalam hati, bingung) Aduh, Tama tetep aja mau. Tapi aku nggak mau numbangin semangatnya. Tapi, kalau ketahuan ibu, kena marah nanti. (Bimbang) Haduh, iya, atau tidak? Iya atau tidak?

Tama            : (Terheran setelah melihat kakaknya yang terus diam) Lho, kakak kok diam aja?

Anita            : (Masih berpikir) Ng… nggak. Kakak nggak papa. Kalau mau mbantu, nggak papa. (Kaget, menutup mulutnya dengan tangan, berbicara dalam hati) Waduh… Keceplosan.

Tama            : (Senang) Ye… Bisa bebas dari belajar! Mending mbantuin kayak gini daripada ngentung di kamar sambil belajar, bosen. Kakak ngerjain tugas sekolah aja. Suruhan ibu, biar Tama yang nyikat!!! (Bersemangat, pergi)

Anita            : I… Iya. (Berjalan meninggalkan ruang keluarga)

 

ADEGAN 5

 

Waktu menunjukkan pukul empat sore. Anita sedang sibuk mengerjakan tugas di kamarnya. Sementara Tama sedang mencuci piring di dapur. Kemudian, Bu Erna baru saja pulang dari bekerja. Bu Erna tampak sangat kaget dengan apa yang dilihatnya : Tama sedang mencuci piring.

 

Bu Erna        : Waduh, kok kamu yang nyuci piring? Harusnya Anita yang nglakuin.

Tama            : Nggak papa, bu. Aku nglakuin…

Bu Erna        : (Memotong, marah) Kamu itu harusnya kan belajar, bukannya nglakuin ini. Ini itu dilakuin sama Anita, bukan kamu!

 

Tama hanya terdiam dengan rasa takut.

 

Bu Erna        : Sekarang, di mana kakakmu itu?! (Memanggil-manggil dengan nada kesal) Anita! Anita!

Anita            : (Menjawab dari kamar) Iya, bu. Anita di kamar, baru ngerjain tugas.

 

Bu Ernapun pergi ke kamar Anita. Setelah melihatnya, Bu Erna sangat marah terhadap Anita. Sementara Tama mengikuti secara diam-diam dan mendengarkan dari jarak yang cukup jauh.

 

Bu Erna        : (Marah) Anita!!! Kamu kok malah di sini?! Harusnya kamu itu ngerjain apa yang ibu suruh! Malah adikmu yang nglakuin. Malu-maluin, tahu nggak?! Adikmu itu udah capek-capek sekolah dan belajar, eh malah kamu suruh nyuci piring.

Anita            : Ibu, tadi aku nggak nyuruh Tama nyuci…

Bu Erna        : (Memotong) Kalau nggak disuruh, terus, kenapa dia nglakuin??? Dia itu tugasnya belajar, bukan nyuci piring. Memangnya kalau dia nyuci piring, mau jadi apa, coba kalau bukan jadi tukang cuci di warung? Malu-maluin! Kamu nggak berhak nyuruh dia! Memang kamu itu ibu???

Anita            : Aku denger sendiri, dia bosen belajar terus. Makanya dia nglakuin itu.

Bu Erna        : (Membentak) Bohong!!! Itu semua bohong! Bilang aja kamu nyuruh dia. Nggak usah ditutup-tutupi!

Anita            : Sebenernya aku juga bingung, bu. Aku juga punya tugas banyak dari sekolah. Sementara aku harus ngerjain suruhan ibu. Karena Tama tahu keadaanku gimana, dia mau nglakuin suruhan ibu. Aku nggak nyuruh, aku nggak paksa.

Bu Erna        : Nah, gitu! Udah jelas, kan kalau kamu nyuruh Tama gara-gara tugas sekolahmu.

 

Anita hanya terdiam.

 

Tama            : (Berbicara dalam hati) Ya, Tuhan, kenapa semua ini menjadi seperti ini? Padahal aku cuma mau nolongin kakakku aja. Apa aku nggak boleh mbantuin kakak yang selalu diberi tugas berat sama ibu?

 

Bu Erna        : Baik, aku punya hukuman yang cocok untuk kenakalanmu hari ini. Hukumanmu adalah kamu nggak boleh sekolah lagi!

 

Anita kaget setengah mati. Begitu juga Tama.

 

Anita            : (Menangis) Bu… jangan, bu! Anita masih ingin sekolah!

Bu Erna        : Jelas-jelas sekolah cuma menghambat kamu untuk jadi istri yang baik untuk besok, dan masalah ini gara-gara tugas sekolah itu. Tugas sekolah itu yang ngganggu! (Meninggalkan Anita)

Anita            : Ibu… (Menangis)

 

Tama mendekati Anita.

 

Tama            : (Sedih) Maafkan aku, ya, kak. Aku seharusnya nggak mbantuin segitu banyaknya tugas kakak. (Menangis) Aku menyesal, kak.

Anita            : (Terisak-isak, memeluk Tama) Kamu nggak salah, kok. (Melepas pelukannya, masuk kamar) Lanjutin aja apa yang udah kamu lakuin. (Menutup pintu kamar)

 

Anita menutup pintu kamarnya dan kembali menangis. Sementara Tama hanya berdiri di depan pintu sambil menyesali perbuatannya.

 

Tama            : (Sedih) Ya Tuhan, kalau aku tidak berlebihan, semuanya tidak akan terjadi seperti ini.

 

ADEGAN 6

 

Pada jam setengah empat dini hari, Anita sedang tidur pulas di kamarnya. Kemudian Bu Erna mengetuk pintu kamar Anita hingga Anita terbangun.

 

Bu Erna        : (Mengetok pintu) Anita, Anita, bangun.

 

Anita masih tertidur.

 

Bu Erna        : Ealah, virus kebonya datang lagi. (Mendobrak pintu) Eh, bangun! Bangun! Masih ngebo???

Anita            : (Terbangun, mengeluh) Aduh bu, jangan ndobrak pintu kayak gitu to!

Bu Erna        : Lha kamu sih, sukanya ngebo.

Anita            : (Judes) Biarin! (Tiduran dengan arah membelakangi Bu Erna)

Bu Erna        : (Marah) Kamu udah berani sama ibu?! (Memukul pantat Anita dengan keras)

Anita            : (Kesakitan, memegang bagian yang dipukul) Aduh, bu…

Bu Erna        : Udah puas? Apa mau pukul lagi?!

Anita            : (Membentak) Udah, kalau ibu ingin mukul lagi, pukul aja, bu! Pukul! Pukul! PUKUL, BU! Nggak ada gunanya aku hidup sekarang!

 

Rasa jengkel Bu Erna dan rasa kasihan Bu Erna terhadap Anita bercampur menjadi satu. Tiba-tiba Bu Erna meninggalkan Anita sendirian.

 

Anita            : (Jengkel)Dasar ibu kejam! Kemarin kena semprot, sekarang kena pukul. Duh, nggak ada rasa di hidupku kecuali rasa tersiksa, dipaksa, dan diperbudak. Ibu udah nggak sayang sama aku! Nggak ada yang sayang sama aku! (Teringat dengan perkataannya sendiri) “Nggak ada gunanya aku hidup sekarang.” Aku memang nggak berguna sekarang. Mending aku saja yang mati saat itu daripada bapak. Ternyata setelah bapak meninggal, aku malah jadi budak seperti ini.

 

ADEGAN 7

 

Waktu menunjukkan pukul empat kurang lima sore. Di ruang keluarga, Tama baru saja pulang dari sekolah.

 

Tama            :Tumben, kok kakak nggak ada ya? Biasanya kakak nyirami tanaman pas jam-jam ini. (Menaruh tasnya) Ah, mungkin kakak baru mandi.

 

Kemudian, Tama melihat secarik kertas yang berada di atas televisi.

 

Tama            : (Mengambil secarik kertas) Ini apa, ya? (Membaca kertas itu) “Untuk Ibu dan Tama. Surat ini merupakan tanda sampai jumpa untuk ibuku dan Tama. Aku minta maaf karena aku telah membuat banyak kesalahan. Untuk Tama. Terima kasih, kau telah menjadi teman satu-satunya di rumah. Tidak ada yang dapat menemaniku selain kebaikanmu. Kau bagaikan malaikat kecil yang selalu menunjukkan sikap terbaikmu. Untuk ibu. Maafkan aku, aku pasti melakukan banyak kesalahan terhadap ibu. Tapi, dari banyaknya suruhan-suruhan itu, aku jadi mengerti. Betapa beratnya hidup ini. Tetapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya karena itu terlalu berat bagiku. Sekali lagi minta maaf. Jika Ibu masih ingin melihatku, datanglah ke kamarku sebelum jam empat sore. Maafkanlah aku yang banyak bersalah, Anita”. (Bingung) Aku nggak ngerti, ini apa,ya? “Jika Ibu masih ingin melihatku, datanglah ke kamarku sebelum jam empat sore.” Ini Maksudnya apa? Kok digaris bawahi? (Menengok jam dinding, khawatir) Lebih baik aku liat. (Bergegas ke kamar Anita, membuka pintu, dan sangat kaget melihat kakanya yang sedang tiduran dengan sebuah belati di tangan kanannya) Kakak, apa yang mau kakak lakukan dengan belati itu???

Anita            : (Melihat jam dinding) Waktuku tinggal sedikit lagi… kemudian aku bisa bebas.

Tama            : Apa yang kakak katakan? Aku nggak ngerti.

Anita            : Sudah hampir saatnya.

Tama            : Saatnya untuk apa???

Anita            : Apa kau sudah membaca surat itu?

Tama            : Ha? Surat? A, iya. Aku sudah membacanya. Lalu, kenapa? (Membaca surat itu lagi, tiba-tiba kaget setengah mati setelah membacanya) Ja…jangan katakan. Kakak… mau…

Anita            : Ini adalah pertemuan kita yang terakhir.

Tama            : Lalu, belati itu, kau gunakan itu untuk… (bersuara keras dengan penuh rasa ketidakpercayaan) BUNUH DIRI???!!!

Anita            : Akhirnya kau mengerti juga. (Melihat jam dinding) Sudah tiba saatnya. Maafkan semua kesalahan kakak. (Tangan kanannya mengayunkan belatinya ke dada bagian kirinya)

Tama            : (Teriak, sedih, menahan tangan kanan Anita) Kakak! Jangan membunuh diri kakak sendiri! Bunuh diri bukanlah jalan keluar, kak!

Anita            : Ini adalah jalan keluarku! (Membentak) Jangan menghalangiku!

 

Tangan kiri Anita menyampar Tama hingga kepala Tama terbentur meja sampai Tama tidak sadarkan diri. Sementara tangan kanan Anita mengayunkan belatinya ke dada kirinya.

 

Anita           : Selamat tinggal, dunia yang kejam…

 

 

 

~~~~~~ Tamat ~~~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s