PERAN GURU PENDAMPING KHUSUS (INCLUSION SCHOOL)

Peran Guru Pendamping Khusus (GPK) sangat membantu sekolah untuk menangani siswa inklusi. Penanganan bagi siswa berkebutuhan khusus itu bisa diwujudkan dengan baik, apabila semua pihak yang di dalamnya termasuk sekolah, proaktif. Konsekuensi dari semua itu sekolah di Kota Yogyakarta tidak boleh menolak siswa inklusi.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta, Edi Heri Suasana, Kamis (15/9) menuturkan, Disdik menunjuk beberapa sekolah untuk menangani siswa inklusi atau Anak Kebutuhan Khusus (ABK).
Beberapa sekolah yang ditunjuk ini dibantu dan diberikan beberapa fasilitas penunjang untuk membantu kegiatan belajar mengajar siswa inklusi. ”Implementasinya, kita menetapkan sekolah yang menjadi penyelenggara inklusi mulai dari SD, SMP, SMA hingga SMK di kota Yogyakarta. Jika ada siswa inklusi kita salurkan ke sekolah inklusi terdekat,” ujar Edi.
Ditambahkan Edi, selain fasilitas penunjang, bagi sekolah yang memiliki siswa inklusi juga diberikan GPK yang pengadaannya berkoordinasi dengan Dikpora Provinsi.
Ketika dimintai komentar terkait dengan hal itu, Kepala SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, Ahmad Zainal Fanani SPd MA mengungkapkan, secara prinsip pihaknya setuju jika sekolah tidak boleh menolak siswa inklusi. Namun, supaya sekolah bisa memberikan layanan yang baik bagi siswa inklusi, pemerintah harus menyiapkan guru pendamping khusus dan fasilitas belajar yang memadai. Dengan cara tersebut diharapkan siswa inklusi bisa lebih nyaman dalam belajar.
Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 2, Sukiman mengungkapkan, beberapa tahun terakhir ini sekolahnya menerima beberapa siswa inklusi. Ditambahkan Sukiman, sejak muncul Perwal inklusi ia berkomitmen untuk mengakomodir siswa inklusi meski sekolahnya merupakan sekolah umum.
“Kami memiliki siswa inklusi penyandang low vision dan tuna daksa mengikuti Ujian Nasional dan ternyata langsung lulus. Kami sangat menghormati imbauan agar sekolah di Kota Yogyakarta tidak boleh menolak siswa inklusi,” tegas Sukiman.
Hal senada diungkapkan Kepala SMPN 1 Kasihan Drs Kuwatono MPd yang menyatakan, jika ada siswa inklusi yang ingin masuk ke SMPN 1 Kasihan, pihaknya melihat nilai UN dan jumlah kursi yang kosong. Jika semuanya memenuhi, pihaknya akan melaporkan terlebih dahulu kepada kepala dinas pendidikan. Alasan melapor ini berkaitan dengan ketersediaan guru bagi siswa inklusi. Karena di SMPN 1 Kasihan tidak memiliki guru tersebut.
Sementara itu sebagai sekolah inklusi dimana siswanya menyandang tunanetra, huruf braille menjadi suatu keharusan di MTsLB Yaketunis Yogyakarta. Sayangnya, menurut Kepala MTsLB Yaketunis, Drs Agus Suryanto MPdI buku-buku dalam huruf braille sangat langka.”Siswa menginginkan literatur yang ditulis dengan braille, bisa membaca langsung bukan sekadar dibacakan,” kata Agus Suryanto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s